Mari Berbagi Kebahagian Melalui Sedekah


Apa yang ada di pikiran kita jika bertemu dengan mereka yang membutuhkan? Mereka yang memerlukan uluran tangan kita. Mereka yang sangat berterima kasih apabila kita membagikan sedikit harta kita. Mereka yang berharap akan datangnya hari di mana kita semua mengulurkan tangan kepada mereka, membantu mereka berdiri, mengandeng tangan mereka, bersama - sama merasakan kehangatan nikmat yang di berikan oleh Sang Pencipta.



Sebagian orang mungkin akan merasa prihatin dan merasa harus membantu, tetapi sebagiannya lagi akan berpikir ‘untunglah, bukan aku yang yang bernasip seperti itu’ tanpa ada sedikitmu rasa ingin membantu. Justru mereka akan menghindar untuk membantu.

Membantu seperti apa yang dimaksud? Membantu dalam memberi, berbagi rejeki.

Ada banyak orang yang menjadikan kebutuhan yang belum terpenuhi sebagai alasan untuk tidak mau bersedekah. Bermacam dalih mereka sebutkan. Mereka lupa pada sebuah kenyataan bahwa bersedekah tidak harus menunggu semua kebutuhan duniawi mereka terpenuhi. Sekarang pun mereka dapat bersedekah. Apakah kamu adalah salah satu dari mereka?. Jika iya, mari kita ubah pola pemikiran menjadi ‘Berbagilah dalam keadaan kapanpun dan di mana pun kita berada’.

Dari kecil kita di ajarkan bahwa berbagi adalah salah satu perbuatan terpuji. Berbagi ke siapa saja tanpa memandang latar belakangnya. Tidak pernah orang – orang dewasa pada waktu kita masih kecil memberitahu bahwa berbagi akan merugikan kita karena pada faktanya berbagi memang tidak akan pernah merugikan kita.

Mari kita ibaratkan berbagi seperti menanam pohon mangga. Kita tanam satu biji mangga di tanah. Kita rawat. Kita beri pupuk agar dapat tumbuh subur dan berbuah lebat. Dalam beberapa bulan atau tahun pohon mangga tadi akan berbuah. Rasa buahnya tergantung dengan biji apa yang kita tanam pada waktu itu dan hasil buahnya jelas kita yang menikmati. Seperti itulah defini berbagi menurut saya pribadi. Biji yang kita tanam adalah harta pertama yang kita sedekahkan, perawatannya adalah dengan terus berbagi, buahnya adalah hikmah dari berbagi, dan rasa buahnya adalah keikhlasan pada saat kita berbagi. Apabila kita berbagi karena ikhlas pasti akan berbuah manis tetapi apabila karena ingin pamer dan di puji pasti akan berbuah hambar (tidak berarti).

Kita juga tau jika berbagi sudah jelas akan di balas dengan pahala. Jadi, kenapa masih takut untuk berbagi?.

Apakah kita pernah mendengar kasus seorang artis atau pengusaha sukses bangkrut (jatuh miskin) karena terlalu sering berbagi?. Tidak pernah dan tidak akan pernah karena kebaikan yang di kerjakan dengan ikhlas akan di balas dengan kebaikan yang lebih besar dari yang kita beri oleh Yang Maha Kuasa.

Semua harta yang kita miliki sekarang adalah pinjaman dari Yang Maha Kuasa. Kita tidak berhak untuk merasa jika harta ini adalah milik kita sendiri. Harta kita juga harus di nikmati oleh mereka yang membutuhkan karena ini adalah salah satu cara Yang Maha Kuasa untuk memberi rejeki kepada mereka yang membutuhkan melalui kita. Berhak tidaknya kita untuk terus menjadi penyalur rejeki di tentukan dengan sudahkah kita menyalurkan rejeki tadi. Jika belum, maka habislah masa untuk merasakan harta yang berkecukupan. Jika sudah, maka akan Dia balas dengan sesuatu yang berlipat – lipat ganda. 

Saya akan sedikit menceritakan kisah nyata dari orang – orang di sekitar saya yang saya tanyai pengalaman mereka tentang bersedekah.

1.      Kisah inspiratif dari seorang ibu rumah tangga yang pekerjaan suaminya hanya membuka toko.
Pada suatu hari Ibu Rahma membagikan sedikit makanan yang tidak terjual di toko suaminya kepada tetangga. Ia berpikir lebih baik di bagikan daripada di buang. Keesokan harinya barang yang mudah membusuk habis terjual. Bu Rahma dan suami bersyukur tetapi mereka tidak sadar jika tadi adalah salah satu hikmah bersedekah. Hari demi hari berlalu tanpa ada sedekah dari keluarga Bu Rahma dan hasil penjualan di toko suaminya tidak sebesar pada hari itu. Akhirnya Bu Rahma tersadar pada kenyataan yang sebenarnya seusai mendengar kajian dari televisi. Hingga saat ini Bu Rahma rajin bersedekah kepada tetangganya yang kurang mampu bahkan Bu Rahma juga ikut mendonasikan hartanya pada lembaga kemanusiaan ketika bencana alam terjadi. Penjualan di toko suami Bu Rahma juga ikut meningkat seiring dengan seringnya Bu Rahma bersedekah.

2.       Kisah inspiratif dari seorang nenek.
Seorang nenek yang bernama Fatimah tinggal bersama anak bungsunya yang merupakan seorang penjual ayam terkaya di daerahnya. Nenek Fatimah memiliki anak tujuh orang dan ketujuh anaknya sukses dengan berbisnis. Ketika di tanya bagaimana ketujuh anaknya dapat sukses semua, Nenek Fatimah menjawab “Nenek selalu pergi secara bergantian ke rumah anak nenek satu persatu untuk mewakilkan mereka menyedekahkan sebagian hartanya karena jika bukan nenek yang menyedekahkan kadang mereka lupa dan nenek tidak mau anak nenek melupakan kewajiban mereka untuk membagikan sebagian hartanya. Biarlah nenek yang mewakilkan. Nenek percaya kesuksesan yang mereka dapatkan karena keringanan tangan untuk bersedekah.”

3.       Kisah inspiratif dari seorang penjual kripik singkong.
Menjadikan penjualan kripik singkong sebagai penghasilan utama yang tidak memiliki daya hasil yang tinggi membuat ketidakcukupan untuk membiayai sekolah anak, biaya makan, dan biaya hidup lainnya. Tetapi seorang ibu rumah tangga yang bernama Ibu Rini tidak pernah mempermasalahkan keadaan ekonominya untuk bersedekah. Sebisa mungkin ia selalu berbagi apa yang ia miliki. Di lihat dari kondisi perekonomian, justru keluarga Ibu Rini lah yang lebih cocok untuk menerima uluran tangan tetapi di sini justru Ibu Rini yang mengulurkan tangannya. Ibu Rini tidak pernah menunggu menjadi kaya untuk berbagi. Ia berpikir jika memang ingin berbagi pasti apapun akan selalu dapat dibagikan.

4.       Kisah inspiratif dari pengalaman saya sendiri.
Waktu itu saat saya sedang berjalan menuju rumah sehabis sekolah. Saya melihat dua orang bersaudara dengan pakaian yang tidak layak pakai dan tubuh yang terlihat tidak di rawat. Anak yang lebih besar (kakaknya) berhenti dan memasuki sebuah supermarket di tepi jalan tetapi tidak dengan adiknya. Karena penasaran saya pun menghampiri adiknya. Saya hampiri adiknya dan saya tanya kenapa tidak masuk bersama kakak dan dia hanya menjawab dengan senyuman malu. Terdengar perdebatan antara orang dewasa dan anak kecil. Karena penasaran, saya hampiri dua orang yang sedang beradu mulut di meja kasir. Ternyata, uang si kakak tadi kurang untuk membeli satu es krim sedangkan adiknya sangat menginginkan es krim. Terhentak hati saya pada saat itu. Saya yang kadang mengeluh hanya di beri uang jajan 10.000 sehari sekarang melihat secara langsung orang – orang yang jauh berada di bawah saya. Tanpa pikir panjang saya ambil lagi satu es krim yang sama lalu saya berikan kepada anak tadi. Saya bilang saya akan membayarkan kedua es krim tersebut dan uang mereka tadi lebih baik digunakan untuk membeli barang yang lebih penting. Tidak hentinya saya mendapatkan ucapan terima kasih dari kedua anak tersebut pada saat perjalanan pulang karena arah kami yang kebetulan sama. Kebahagiaan terpancar di kedua wajah mereka dan tanpa saya sadari, hati saya merasa hangat dapat membantu mewujudkan dan membantu apa yang mereka inginkan.

Dari keempat cerita inspiratif di atas yang merupakan kisah nyata, kita dapat menyimpulkan jika berbagi akan menambah rejeki kita bukan mengurangi, berbagi adalah kewajiban kita karena harta yang kita miliki bukanlah milik kita, berbagi tidak harus menunggu kita berkecukupan, dan yang terakhir berbagi adalah perbuatan paling mulia karena dapat mengukir kebahagiaan seseorang.

Indahnya dunia ini jika kita semua membagikan sedikit harta yang kita punya kepada mereka yang membutuhkan. Tidak akan ada lagi raut sedih yang terpancar karena sudah tergantikan dengan kebahagiaan dan kehangatan. Siapa yang dapat mewujudkan kebahagiaan di wajah mereka? Siapa lagi jika bukan kita. Mari, berbagi. Berbagilah dengan tangan kanan, berbagi dengan keikhlasan bukan dengan harapan pujian dari orang – orang. Ulurkanlah tanganmu, bantu mereka berdiri, bantu mereka menikmati dunia yang indah ini dengan selayaknya.


Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Jangan Takut Berbagi yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa 

Keyword Donasi : donasi.dompetdhuafa.org 
Keyword Dompet Dhuafa :  www.dompetdhuafa.org


Comments